Rabu, 31 Januari 2018

Gerhana

Mau cerita nih, menurut perhitungan astronomi, pernah terjadi gerhana matahari cincin pada 27 Januari 632 Masehi. Berawal dari jam 07.15 berakhir pada jam 09.53 GMT+3. Dapat terlihat di jazirah Arab yang sangat tandus. Mungkin kita pernah merasakan gerhana matahari di Indonesia, daerah yang sering sekali berawan. Saat terjadi gerhana matahari di daerah berawan maka langit menjadi gelap beberapa menit namun kadangkali memang matahari terhalang awan sehingga sensasi gelapnya tidak begitu 'wah'. Pernah suatu saat aku ke jazirah Arab. Pemandangan awan adalah hal yang langka. Sepanjang mata memandang hanyalah langit biru tanpa hiasan awan. Nah, sekarang bayangkan di daerah padang pasir di mana awan adalah sangat jarang terlihat. Bayangkan langit biru tanpa ada awan di sebuah pagi. Pemandangan di langit hanyalah matahari dan langit biru. Lalu tiba-tiba satu-satunya sumber cahaya dan pemandangan di hari itu alias matahari tertutup oleh bulan. Langit tiba-tiba menjadi gelap padahal hari sedang cerah tanpa awan. Bayangkan jika kamu hidup di zaman itu dengan wawasan astronomi yang mungkin belum seberkembang sekarang.

Nah itulah yang terjadi di zaman Nabi Muhammad di Madinah pada Senin, 29 Syawal 10 Hijriyah (menurut perhitungan astronomi). Saat itu Nabi sudah sangat mapan kekuasaannya di jazirah Arab. Makkah sudah ditaklukkan, para kabilah di jazirah Arab berbondong-bondong masuk Islam, bahkan Bizantium (Romawi Timur) yang menjadi negara adidaya di zaman itu tidak berani menyerang pasukan Nabi saat perang Tabuk. Bayangkan jika ada penguasa besar yang putranya meninggal, beritanya pasti menyebar dan menjadi perhatian para rakyat. Ini Nabi akhir zaman pula. Qadarullah, gerhana tersebut itu terjadi beberapa saat setelah kematian putra terakhir Nabi Muhammad yang bernama Ibrahim di usia kira-kira satu setengah tahun. Sontak beberapa masyarakat Arab mengaitkan gerhana ini dengan kematian putra Nabi. Mendengar hal itu, Nabi bersabda saat khutbah shalat kusuf.

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَا يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ، وَكَبِّرُوا، وَصَلُّوا، وَتَصَدَّقُوا

"Sesungguhnya matahari dan bulan adalah sekian dari tanda kekuasaan Allah; tidak terjadi gerhana karena kematian atau kelahiran seseorang. Apabila kalian melihat gerhana, maka berdoalah kepada Allah, bertakbirah, shalatlah, dan bersedekahlah." (HR Bukhori no. 1044)

Ini adalah fenomena alam, tanda kekuasaan Tuhan. Di zaman modern ini, sangatlah terasa kuno jika kita mengaitkan fenomona alam dengan dinamika yang terjadi masyarakat. "Wah, tahun politik ini dimulai dengan gerhana yang berdarah-darah. Jangan-jangan...." STOP! Apalagi pesan hoax yang ada di foto ketiga.

Mari jadikan gerhana ini sarana menambah ilmu dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Jatiasih, 31 Januari 2017
Bukhori Ahmad Muslim


Foto 1 dari Mas Arifin 
Foto 2 yang bisa kufoto sendiri

Foto 3 dapat dari Mbak Beladina Z. Dewi

Selasa, 30 Januari 2018

xx Days Writing Challenge

Tak terasa ini adalah hari ke-30 dalam bulan Januari. Ini adalah tulisanku ke-30 sejak tahun baru 2018. Awalnya tidak ada rencana khusus setiap hari harus menulis satu tulisan berfaedah (walau sering tulisanku tidak berfaedah). His name also effort. Namanya juga usaha. Saat menulis di tanggal 1 Januari tidak ada rencana untuk melakukan tantangan ini (padahal tidak ada orang yang menantang untuk melakukan tantangan ini). Namun, setelah menyadari liburanku gabut dan tidak ada kegiatan khusus ya sudah dicoba saja. Satu hari satu tulisan. Bismillah, kemudian tidak terasa sudah tanggal 30.

Menulis rutin di saat liburan sebenarnya sudah pernah kurencanakan saat liburan sejak zaman masih sekolah. Sayang sekali sering berujung wacana tanpa realisasi. Syukurnya, sejak aku diberi rezeki untuk berkuliah. Aku mendapat lingkungan dunia maya yang kondusif untuk menulis. Aku menemukan banyak tulisan bagus yang ditulis oleh temanku sendiri. Aku terinspirasi dengan tulisan mereka. Aku ingin bisa menebar kebaikan seperti mereka. Prinsipku bukanlah "be yourself" tapi "be your betterself". Semoga aku bisa menjadi lebih baik.

Dalam menulis, seringkali aku menghadapi hambatan. Menurutku, hambatan terbesar dalam menulis adalah hampanya inspirasi. Pernah kusinggung di tulisanku ke-25 saat benar-benar hampa inspirasi. Akhirnya aku teringat perkataan salah satu Ustadzku dulu di Isy Karima, "Tulislah apa yang kamu pikirkan dan jangan pikirkan apa yang mau kamu tulis." Cara ini cukup efektif kalau tujuannya yang penting menulis tapi kualitas tulisannya belum tentu memuaskan.

Tidak hanya hambatan menulis yang harus dihadapi, hambatan merutinkan menulis juga harus dihadapi. Adalah hal wajar menurutku dalam merutinkan hal baru akan terasa berat pada suatu saat. Namun jika hambatan itu bisa dilewati, akan terasa hal sebaliknya. Jika tidak melakukan rutinitas maka akan terasa ada yang kurang dalam menjalani hari itu.

Seringkali dalam menulis aku takut tulisanku tidak bagus, takut tulisanku tidak berfaedah, hanya coretan tidak jelas. Namun aku tetap mencoba untuk terus menulis. Biarlah ini menjadi proses. Bukankah kita sebaiknya menikmati sebuah proses? Aku bahagia nantinya jika bisa senyum-senyum sendiri menertawakan tulisanku yang dahulu. Itu artinya ada perkembangan dalam tulisanku.

Jatiasih, 30 Januari 2017
Bukhori Ahmad Muslim

Senin, 29 Januari 2018

Mereka

Orang yang memilih hidupnya untuk berstatus single dalam beberapa tahun ke depan dalam hidupnya bukan soal dia tidak laku ataupun tidak tertarik lawan jenis, bukan. Terkadang memang orang ini yang berusaha mengejar hal lain yang menjadi fokusnya sehingga terkesan mengesampingkan hal lain di luar fokusnya.

Namun, di zaman ini aku menemukan beberapa orang yang dalam hal ini hanya ingin menempuh cara legal (baca: halal) menurut keyakinannya. Kalau tidak single ya berarti melamar dan menikah. Tidak ada istilah pacaran sebelum menikah atau hubungan tanpa status. Di zaman ini tidak asing kan menemukan orang seperti ini? Barangkali dulu jarang, mungkin. Sekarang hal ini selain kita bisa saksikan di dunia nyata, bisa kita tonton juga di layar kaca. Mungkin masih terbatas pada film religi seperti Ayat-Ayat Cinta 1 & 2, Ketika Cinta Bertasbih 1 & 2, dan beberapa film lainnya yang aku lupa judulnya. Artinya, harusnya secara relatif hal ini tidak asing lagi menurut sebagian kita.

Pernahkah terpikir apa sih yang menjadi motivasi mereka untuk menempuh jalan itu dan menghalangi diri mereka sendiri dari dinamika pacaran pada umumnya. Mengapa mereka begitu membatasi dirinya terhadap lawan jenis seperti tidak bersentuhan, berduaan, atau berkencan?

Pernah kutanyakan dan jawaban pertama mereka adalah mereka ingin mematuhi perintah Tuhan mereka. Oke, untuk hal itu aku tak dapat mengomentarinya. Bukankah religius adalah jatidiri bangsa Indonesia yang tertulis pada sila pertama Pancasila "Ketuhanan Yang Maha Esa"?

Pertanyaan kulanjutkan. Apa enaknya sih menempuh jalan seperti ini? Menahan diri dari yang diinginkan oleh diri pada umumnya. Apa enaknya mereka tidak berpacaran dan menikmati masa mudanya dengan percintaan? Jawaban mereka membuatku antara kagum dan heran. Mereka membuat sebuah permisalan puasa. Memang aku bukan orang yang taat-taat banget dalam beragama namun setidaknya aku pernah merasakan apa itu puasa dari fajar hingga sore berakhir. Mereka mengatakan ibaratnya yang mereka lakukan (membatasi interaksi terhadap lawan jenis, tidak berpacaran sebelum nikah, dsb.) adalah puasa. Aku pernah merasakan puasa dan memang rasanya tidak enak bila tidak biasa karena harus menahan lapar dan haus.

Hal yang paling enak dan ditunggu-tunggu dari puasa adalah saat berbuka puasa! Makanan dan minuman apapun akan terasa sangat lezat saat berbuka puasa. Nah, mereka mengibaratkan bila nanti mereka sudah menikah artinya mereka berbuka puasa. Hal-hal yang mereka tahan selama 'puasa' akan mereka lakukan hanya dengan pasangannya untuk pertama kalinya dan mereka bilang dari pengalaman para pendahulu mereka bahwa keindahannya dan kenikmatnya akan jauh lebih terasa indah dibanding orang yang tidak pernah melakukan sebelumnya (karena sekali lagi, ini pengalaman pertama mereka). Hal-hal yang khusus mereka lakukan ke pasangannya juga adalah hal pertama yang mereka lakukan dalam hidupnya. Tidak ada laki-laki atau perempuan lain yang mendahului pasangan mereka. Hmm, romantis ya.

Sekarang, aku mulai paham mereka. Alangkah indahnya jika aku bisa termasuk golongan mereka.

Bekasi, 29 Januari 2018

Minggu, 28 Januari 2018

Prasangka Buruk

Barusan aku shalat isya di shaf ketiga lalu aku melihat persis di depanku ada kakek shalat dengan jarak yang cukup longgar seukuran setengah orang dari orang di sebelah kirinya. Mau diisi tapi tidak muat, mau dibiarkan tapi gatel banget melihatnya. Akhirnya aku hanya bisa shalat di belakang celah nanggung itu. Bukannya shalat yang khusyuk, aku malah kepikiran

"Ah dasar kakek-kakek bukannya merapatkan shaf malah shalat seenaknya dia.",

"Gimana umat mau bersatu kalau shaf shalat aja belum bisa rapat.",

"Biasanya nih orang kayak gini kalau orang sebelahnya merapatkan kakinya ke ke kaki dia biar shafnya rapat, orang ini bakal malah makin menjauh kakinya.",

dan prasangka buruk lainnya terbesit dalam benakku. Padahal seharusnya shalat itu khusyuk.

Gerakan shalatpun berlanjut. Berdiri-rukuk-i'tidal-sujud. Saat tiba waktunya bersujud, aku baru sadar bahwa kakek itu memiliki keterbatasan Range of Motion (ROM) pada lututnya sehingga saat sujud dia memerlukan tempat yang lebih luas dari biasanya karena tungkainya (baca: kaki) tidak dapat menekuk sempurna. Gerakan selanjutnya adalah duduk di antara dua sujud. Ini lebih sulit lagi tentunya. Kakinya yang tak bisa menekuk sempurna membuatnya memakan tempat yang lebih luas bahkan dibanding saat sujud sekalipun.

Setelah itu aku baru sadar, prasangkaku tidaklah benar. Kakek ini memang membutuhkan tempat lebih luas untuk shalatnya. Prasangkaku 'kakek yang anti rapat shaf' ini runtuh. Aku malu pada diri sendiri. Bahkan berganti muncul rasa kagum. Kakek ini pasti memerlukan perjuangan yang lebih besar untuk tetap shalat berjamaah di masjid. Apalah diriku yang masih muda dan sehat bugar namun masih sering merasa malas untuk berjamaah di masjid.

 Apa kabar dirimu?

Jatiasih, 28 Januari 2018
Bukhori Ahmad Muslim

Sabtu, 27 Januari 2018

"Nak, tolong angkatin galon ini ya."

"Nak, gas habis. Tolong belikan gas ya."

"Ah, kenapa sih orangtuaku nyuruh-nyuruh aku terus padahal masih ada kakak atau adikku yang nganggur jarang disuruh."

Pernahkah terbesit hal ini di dalam hati kita? Merasa menjadi pesuruh orang tua. Merasa hanya 'aku' yang disuruh sedangkan yang lain tidak. Pernah? Aku pernah. Aku pernah menjawab, "Mengapa gak mas aja?" atau "Kok aku terus? Gak mbak aja?" dsb.

Akhir-akhir ini aku baru sadar betapa ruginya pola pikirku ini. Aku baru sadar saat orangtua meminta salah satu anaknya untuk membantunya berarti dia telah menunjuk khusus anak itu untuk berbakti kepadanya.

Selamat berbakti kepada orangtua!

Sentul, 27 Januari 2017
Bukhori Ahmad Muslim

Jumat, 26 Januari 2018

Panggilan

Ada seorang pekerja proyek yang bekerja di lantai 12. Dia menggunakan peralatan keselamatan lengkap seperti helm, earplug, dsb. Pekerjaannya memang menghasilkan suara bising sehingga dia memerlukan earplug untuk meredam suara yang dia terima. Pada suatu saat dia merasa ada benda kecil jatuh mengenai helmnya, ternyata itu adalah koin seratus rupiah.

"Ah, apaan sih ini."

Seketika dia membuang koin itu begitu saja.

Setelah itu dia melanjutkan pekerjaannya dan ada lagi-lagi ada koin yang jatuh mengenai helmya dan kali ini adalah koin seribu rupiah.

"Ambil aja ah, lumayan nanti biar tidak repot mencari recehan membayar parkir." Saat itu biaya parkir motor di sana masuk seribu rupiah.

Pekerja itu kembali melanjutkan pekerjaannya dan lagi-lagi ada koin yang jatuh mengenai helmnya. Kali ini adalah koin berwarna perak yang dia tidak dia kenali. Dia kantongi koin itu begitu saja tanpa sadar koin itu adalah dinar perak yang hari ini senilai Rp87.453.

Setelah itu, dia melanjutkan pekerjaannya dan kali ini ada kerikil yang menimpuk helmnya. Baru dia mengadahkan kepalanya ke atas dan ternyata bosnya yang sedang di lantai 15 memanggilnya. Tersadar ternyata koin-koin yang dijatuhkan ke dia bertujuan agar dia merasa terpanggil karena dia tidak bisa mendengar teriakan orang sebab earplug yang menempel pada telinganya.

***
Dari cerita fiktif ini, kita bisa menyadari sering nikmat yang kita dapatkan tidak membuat kita sadar akan Sang Pemberi Nikmat. Kita juga tidak menyadari kadar sesungguhnya sebuah nikmat jika ilmu kita terbatas. Yang paling menyedihkan, seringkali kita baru ingat Allah setelah mendapat musibah.

Apakah harus musibah demi musibah menghampiri kita baru kita mengingat-Nya? Alangkah indahnya apabila kita bisa menjadikan setiap nikmat dari-Nya sarana kita makin dekat kepada-Nya.

Jatiasih, 26 Januari 2017
Bukhori Ahmad Muslim

Kamis, 25 Januari 2018

Inspirasi

Inspirasi adalah barang mahal. Saat ia datang, jangan sia-siakan. Inspirasi adalah barang langka. Saat ia datang, abadikan dengan coretanmu jangan sampai menguap begitu saja. Inspirasi adalah sumber energi perubahan dalam hidup yang tanpanya hidup akan begitu-begitu saja.

Jika kamu sudah mendapat inspirasi, jangan lupa seimbangkan dengan melakukan ekspirasi. Ekspirasi bisa kamu lakukan dengan cara menginspirasi orang lain juga melalui karya-karyamu. Selamat berinspirasi dan menginspirasi!

Ditulis setelah seharian tidak menemukan inspirasi dan menyadari mahalnya sebuah inspirasi.

Setu, 25 Januari 2017
Bukhori Ahmad Muslim

Rabu, 24 Januari 2018

Gempa

Kemarin, saat aku di rumah temanku yang persis berada di samping TK dan SD yang dulu aku menempuh pendidikan di sana. Aku pun duduk di kasur kamarnya. Tak lama kemudian terasa bahwa kasur yang kududuki bergoyang sebentar. "Ah, mungkin karena aku duduki maka goyang sedikit." Saat aku melihat sekitar, ternyata ikut bergoyang. Aku langsung sedikit berteriak memanggil tuan rumah, temanku langsung datang menanyakan ada apa.

"Ente ga ngerasa gempa?", tanyaku.

"Enggak", jawabnya.

"Syukurlah ente ga ngerasain."

Mungkin aku hanya halusinasi saja. Langsung kutanyakan di grup orang-orang yang berdomisili di jabodetabek dan segera mereka menjawab bahwa mereka merasakannya. Sayup-sayup mulai terdengar dari arah sekolahku yang dahulu suara-suara anak berteriak dan sirine evakuasi dari gedung. "Benar, ternyata barusan gempa." Beberapa menit kemudian muncul breaking news di mana-mana bahwa barusan terjadi gempa dan terasa di Jakarta. Alhamdulillah tidak ada kerusakan berarti yang terjadi sekitar lingkunganku saat itu. Namun saat melihat berita, terkabar bahwa terjadi kepanikan di kompleks perkantoran di Jakarta.


Gempa berlalu, tapi tidak dengan manusia yang mengambil pelajaran dari gempa itu. Banyak reminder yang kubaca setelah gempa ini terjadi. Ada yang berandai seandainya azan bisa menggerakkan orang seperti gempa. Ada yang mencocokkan jam kejadian gempa dengan ayat Alquran (13:34). "Mereka mendapat siksaan dalam kehidupan dunia, dan azab akhirat pasti lebih keras. Tidak ada seorang pun yang melindungi mereka dari (azab) Allah." 

Orang biasanya baru tersadar setelah ada keadaan yang mendesaknya. Lebih banyak orang makin dekat dengan Tuhannya saat mendapat musibah daripada saat mendapat anugerah. Tanyakan pada diri kita masing-masing, apakah agar kita makin sadar dan dekat kepada Allah harus datang musibah terlebih dahulu?

Tanah Abang, 24 Januari 2018
Bukhori Ahmad Muslim

Selasa, 23 Januari 2018

Meninggalkan Zona Nyaman

Kenyamanan adalah sesuatu yang dicari oleh banyak orang. Banyak orang yang berharap nyaman dengan hidupnya, nyaman dengan seseorang (walau ini kadang muncul sendiri tanpa diharapkan), dan nyaman-nyaman yang lain. Namun, aku menemukan ada orang yang tak ingin berlama-lama merasa nyaman. Setiap dia sudah mulai merasa nyaman dengan sesuatu, dia memutuskan untuk mencoba hal baru meninggalkan rasa nyamannya. Orang macam apa itu?

Saat kutanyakan mengapa dia meninggalkan zona nyaman dia menjawab bahwa dia ingin terus berkembang. Rasa nyaman terhadap sesuatu terlalu lama menurutnya dapat menghambat perkembangan. Bagaikan pesawat yang sudah 'nyaman' di bandara, agar terbang dia harus meninggalkan zona nyamannya di bandara dan melewati awal dari critical eleven* saat lepas landas. Begitupula saat sudah 'nyaman di udara, agar sampai tujuan harus merasakan guncangan saat mendarat. Kita tidak bisa selamanya hidup di zona nyaman. Ada kalanya ketidaknyamanan mewarnai hidup kita agar kita tidak lupa apa itu rasa nyaman dan diri kita dapat melesat berkembang.

Ditulis untukmu yang sedang merasakan ketidaknyaman dalam hidup atau memang sengaja meninggalkan zona nyaman, yakinlah ini jalan suksesmu.

Jatiasih, 23 Januari 2018
Bukhori Ahmad Muslim

* Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kiritis di dalam pesawat—tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing—karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It's when the aircraft is most vulnerable to any danger. (Sinopsis Critical Eleven)

Senin, 22 Januari 2018

Orang yang menyakiti hatimu pada hakikatnya dia telah berkontribusi dalam pendewasaan dirimu. Tidak perlu dendam padanya bahkan ucapkanlah 'terima kasih' karena dia barangkali telah membuat perkembangan dalam diri kita melebihi orang yang berbuat baik pada kita sekalipun. Kita akan menjadi lebih sabar, tabah, dewasa setelah ditempa dengan banyak masalah dalam hidup, termasuk perbuatan buruknya kepada kita.

Namun, hal ini hanya berlaku bagi yang mengikhlaskan, berusaha sabar, dan menjadikan ini sebagai pelajaran pendewasaan. Hal ini tidak berlaku bagi yang hanya bisa marah-marah sakit hati.

What/Who doesn't kill you, makes you stronger.

Jatiasih, 22 Januari 2018
Bukhori Ahmad Muslim

Minggu, 21 Januari 2018



Reuni. Kembali bersatu.

Barusan mendapat kesempatan untuk mengikuti reuni akbar perdana pesantrenku saat sekolah menengah pertama dahulu. Aku kembali bertemu banyak orang yang pernah hadir dalam hidupku sejak sekian lama tak jumpa. Aku kembali bertemu dengan ustadzku yang telah mengubah hidupku secara total. Telingaku kembali mendengar wejangan Pak Kyai setelah sekian lama tak pernah mendengar suaranya. Semua memori samar-samar terbayang walau semua orang sudah berubah.

People change, memories don't.

Benar, orang-orang sudah berubah. Awal perjumpaan dengan mereka adalah masa remaja transisi dari anak-anak menuju dewasa. Dua puluh empat jam dalam sehari tujuh hari dalam sepekan aku membersamai mereka di asrama, dapur, sekolah, masjid, dan tempat-tempat lain yang tak dapat disebut satu persatu. Mereka semua sudah berubah. Mereka semua sudah menjadi 'orang' di tempat masing-masing. Tidak hanya menjadi 'orang', mereka menjadi inspirasi dan pengaruh di tempatnya.

Dahulu saat masih bersama, hanya karena merasa aku mengungguli seseorang dalam hal tertentu muncul perasaan, "Bakal jadi apaan orang ini nanti." (betapa sombong diriku dahulu) atau ada temanku yang biasa saja tak terlihat hal menonjol dari dirinya. Ada juga teman yang terkenal bandel lalu muncul tilikan bakal jadi apa dia nanti. Semua itu hanya kesombongan diriku dahulu dan pandangan jangka pendek.

Sekarang, satu persatu aku melihat mereka sukses di tempat dan bidangnya. Ada yang menjadi inisiator gerakan sosial ini dan itu, ada yang menjadi presiden di fakultasnya, ada yang menjadi pemimpin di lembaga dakwah fakultasnya, ada yang dari negara ke negara lain mengharumkan nama negaranya sendiri dengan prestasinya, ada yang sukses dengan bisnisnya menghidupi keluarga kecilnya, ada dan ada yang tak sanggup kutuliskan satu persatu. Aku angkatan keempat maka semua orang yang kumaksud di sini jaraknya hanyalah maksimal 3, 2, 1 tahun, atau bahkan tak berjarak sama sekali. Memang diri kita tak mampu untuk mengubah makna dan lafazh Alquran. Namun, apabila Alquran sudah masuk ke dalam diri kita maka nantikan perubahan (yang lebih baik) dalam diri dan hidup kita.

Hal yang bisa kupelajari hari ini adalah tidak perlu kita menghargai orang menunggu jabatan ataupun prestasinya. Hargai semua orang yang kita kenal dan tidak perlu kita memandangnya dengan sebelah mata hanya karena 'B aja' menurut kita. Sebagai contoh, tidak perlu kita memandang sebelah mata teman kita yang kita anggap apatis ataupun hanya kuliah-pulang kuliah-pulang bahkan teman kita yang 'berlangganan' remediasi. Semua orang memiliki keunikan tersendiri. Kita tak ada yang tahu akan sesukses apa teman-teman kita nanti bagaimanapun kita memandangnya sekarang. Oleh karena itu, tidak ada ruginya kita menghargai mereka semua.

Jatiasih, 21 Januari 2018
Bukhori Ahmad Muslim

Sabtu, 20 Januari 2018

Pada liburanku yang gabut ini, aku mencanangkan membaca beberapa buku yang sebenarnya pernah kubaca bahkan kupelajari di sekolah menengah namun kurasa butuh untuk kembali membacanya. Buku yang kumaksud adalah buku fikihku dahulu. Saat berhadapan permasalahan di dunia nyata sering samar-samar kuingat solusinya ada di pelajaranku dulu namun aku lupa. Oleh karena itu harus kubaca lagi. Namun, saat melihat-lihat buku yang ada di rak, aku menemukan buku karangan Pidi Baiq, judulnya Milea Suara dari Dilan. Karena aku sudah membaca Dilan Dia adalah Dilanku 1990 dan filmnya sebentar lagi tayang, aku menjadi tergoda membacanya. Anggap saja sebagai selingan dan melatihku berkata manis bila nanti saatnya telah tiba.

Aku membaca buku Milea setelah dzuhur, itupun aku tidak terus-terusan membacanya. Aku sambi dengan melihat pengumuman peserta lolos tahap 1 olympus 2018 dan melihat berita di teve. Aku masih ingat aku menonton saluran France24 namun berbahasa Inggris, beritanya tentang "US Government Shutdown". Pemerintahan Amerika 'padam' atau 'tutup'. Rencana anggaran federal tidak diloloskan oleh Kongres sehingga pemerintahan Amerika tidak memiliki dana untuk menjalankan operasionalnya alias macet sampai rencana anggaran ini disetujui. Aku mencoba mengklarifikasi yang kuserap dari berita di saluran ini dengan membuka Aljazeera berbahasa Arab. Oke, ternyata sama isinya. Lumayan sekalian mengasah kosa kata bahasa Arab modern. Aku lanjut membaca Milea. Ashar. Setelah itu, lanjut kembali dan aku tenggelam dalam bacaan ini hingga tak terasa selesai sebelum waktu maghrib.

Banyak hikmah kudapatkan dari buku ini yang menurutku tidak terlalu tebal. Namun, justru hikmah terbesar yang kusadari bukan dari isi buku melainkan dari proses membaca buku ini. Mengapa aku bisa tenggelam membaca buku ini hingga waktu tak terasa dari jam 1 sudah jam 6. Baru tersadar saat tamat halaman 357 alias terakhir. Aku membayangkan bagaimana seandainya aku bisa membaca Alquran setenggelam ini. Membaca Alquran yang kandungan sastranya pastinya lebih tinggi dibanding buku Milea (dan memang bukan bandingannya). Membaca Alquran tanpa bosan baru sadar waktu saat sudah selesai mengkhatamkan.

Aku hanya bisa bertanya kepada diri sendiri. Aku baru sadar mengapa orang bisa betah membaca sesuatu. Orang bisa betah membaca sesuatu karena menyukai bacaan itu, karena mencintai bacaan itu, karena nyaman dengan bacaan itu. Sekarang, aku sadar berapa kadar kecintaanku terhadap Alquran. Bagaimana dengan kamu? Semoga baik-baik saja di sana.

Jatiasih, 20 Januari 2018
Bukhori Ahmad Muslim

Jumat, 19 Januari 2018

Kata Ganti Bahasa Arab (ضمير)



Alhamdulillah, akhir-akhir ini penggunaan bahasa Arab makin banyak yang terselipkan di percakapan kita. Jika ditelaah kembali sejak dahulu sangat banyak kosa kata bahasa Indonesia yang diserap dari bahasa Arab. Sebut saja Majelis Permusyawaratan Rakyat, setiap kata pada frasa itu adalah serapan dari bahasa Arab. Akhir-akhir ini juga kita bisa dengar ungkapan 'syukran' (شُكْرًا) yang artinya terima kasih dan 'afwan' (عَفْوًا) yang artinya maaf atau juga bisa jawaban dari terima kasih. Lalu ada juga penggunaan ungkapan 'jazakallahu khairan' (جَزَاكَ اللهُ خَيْرًا) yang artinya semoga Allah membalasmu kebaikan atau 'syafakallah' (شَفَاكَ اللهُ) yang artinya semoga Allah menyembuhkanmu. Penggunaan ungkapan ini bukan berarti kearab-araban dan tidak bangga bahasa sendiri, bukan. Penggunaan ungkapan ini memang doa yang Nabi ajarkan.

Namun, terkadang terjadi kesalahan pada penggunaan ungkapan ini terutama pada kata ganti (pronoun). Hal ini biasanya karena kekurangpahaman atau memang tidak mengetahui sama sekali tata bahasa Arab. Tata bahasa Arab memang sangat kompleks. Ada 14 kata ganti dalam bahasa Arab dan setiap berbeda posisi maka berubah juga bentuknya. Jika ingin belajar 14 kata ganti berikut dengan perubahannya bisa baca di sini. Selamat belajar!

"Hmm, kok ribet banget dan gak praktis sih."

Oke, mari kita pelajari prakteknya langsung ya. Di grup ada yang mengumumkan bahwa ada SATU teman kita LAKI-LAKI sedang sakit. Apa yang kita ucapkan? Ucapkan 'syafaHUllah' (شَفَاهُ اللهُ).

Apabila yang sakit PEREMPUAN berjumlah SATU maka ucapkan 'syafaHAllah' (شَفَاهَا اللهُ).

Jika ada DUA yang sakit terlepas siapa mereka berdua ucapkan 'syafaHUMAllah' (شَفَهُمَا اللهُ).

Jika yang sakit LEBIH DARI DUA LAKI-LAKI ucapkan 'syafaHUMUllah' (شَفَاهُمُ اللهُ).

Jika yang sakit LEBIH DARI DUA PEREMPUAN ucapkan 'syafaHUNNAllah' (شَفَاهُنَّ اللهُ).

Oh iya, tujuan huruf yang dibesarkan adalah fokus di kata ganti itu dan ini baru kata ganti orang ketiga (orang lain) loh hehe belum kata ganti orang pertama (diri sendiri) dan orang kedua (lawan bicara).

Jika ingin menyebut nama orang yang ingin didoakan langsung saja tanpa menggunakan kata ganti 'syafallahu ....(sebut namanya)' (شَفَى اللهُ.....).
Setelah ini silakan bisa dikiaskan ke ungkapan yang lain seperti 'jazaHUllahu khairan' (جَزَاهُ اللهُ خَيْرًا) atau 'jazaHAllahu khairan' (جَزَاهَا اللهُ خَيْرًا).

Selanjutnya, pada ungkapan 'jazakallahu khairan' (جَزَاكَ اللهُ خَيْرًا). Terkadang kita menemukan 'jazakallahu khair'. Ini kurang tepat karena seharusnya ada harakat fathah tanwin pada akhir kata 'khair'. Hal ini karena kata 'khairan' berposisi sebagai objek sehingga manshub dan tanda manshubnya adalah fathah. Kadang juga kita menemukan orang hanya mengucapkan 'jazakallah' (semoga Allah membalasmu) tanpa melanjutkan objeknya. Kita paham maksud orang itu mengucapkan semoga Allah membalasmu kebaikan namun ada baiknya kita mengucapkannya lengkap. 'Jazakallahu khairan' (جَزَاكَ اللهُ خَيْرًا).

Paragraf sebelum ini hanyalah selingan karena tidak membahas kata ganti hehe. Mari kita lanjut membahas kata ganti orang kedua (lawan bicara) dan kata ganti orang pertama (diri sendiri).

Kita ingin berterima kasih kepada lawan bicara kita SATU LAKI-LAKI maka ucapkan 'jazaKAllahu khairan' (جَزَاكَ اللهُ خَيْرًا).

Jika kepada SATU PEREMPUAN maka ucapkan 'jazaKIllahu khairan' (جَزَاكِ اللهُ خَيْرًا).

Jika kepada DUA ORANG terlepas siapa mereka maka ucapkan 'jazaKUMAllahu khairan' (جَزَاكُمَا اللهُ خَيْرًا).

Jika kepada LEBIH DARI DUA LAKI-LAKI maka ucapkan 'jazaKUMUllahu khairan' (جَزَاكُمُ اللهُ خَيْرًا).

Jika kepada LEBIH DARI DUA PEREMPUAN maka ucapkan 'jazaKUNNAllahu khairan' (جَزَاكُنَّ اللهُ خَيْرًا).

Jika kepada DIRI SENDIRI (AKU) maka ucapkan 'jazaNIllahu khairan' (جَزَانِي اللهُ خَيْرًا).

Jika kepada KAMI (bedakan kami dan kita) maka ucapkan 'jazaNAllahu khairan' (جَزَانَا اللهُ خَيْرًا).

Jika ingin menyebut nama orang yang ingin diucapkan terima kasih langsung saja tanpa menggunakan kata ganti 'jazallahu (sebut namanya) 
khairan' (جَزَى اللهُ ..... خَيْرًا).

Setelah ini, silakan bisa dikiaskan ke ungkapan yang lain seperti 'syafakallah' (ُشَفَاكَ الله) dan 'syafakillah' (شَفَاكِ اللهُ).

Oh iya, ini baru kata ganti jika berposisi sebagai objek setelah kata kerja. Beda lagi ceritanya kalau kata ganti menjadi subjek yang menempel pada kata kerja. Memang ilmu ini masih sangat luas. Belajar terus yuk!

Semoga setelah membaca tulisan ini, kesalahan dalam penggunaan ungkapan bahasa Arab terutama yang ada kata gantinya dapat diminimalisir.

Jatiasih, 19 Januari 2018
Bukhori Ahmad Muslim

Kamis, 18 Januari 2018

Letakkan di Tengah

Dulu saya menempuh sekolah menengah pertama dan madrasah aliyah di pesantren. Pada kebanyakan pesantren, penggunaan hape untuk santri sangatlah dibatasi bahkan banyak yang dilarang sama sekali. Penggunaan hape tanpa izin pihak berwenang adalah sebuah pelanggaran sedang hingga berat. Sebagai contoh, barangsiapa yang tertangkap membawa hape maka saat sesi semua santri berkumpul, dia harus memecahkan hapenya sendiri di depan umum sekalipun hapenya mahal seperti iPhone. Saya termasuk orang yang terdampak dengan kebijakan ini selama 6 tahun dan saya mensyukuri hal itu. Saya baru sadar hikmah dari peraturan ini saat sudah tidak di pesantren.

Seringkali saya seharusnya belajar untuk pretes besok atau mencicil laporan praktikum yang harus dikumpulkan besok namun malah tenggelam dengan gawai (gadget). Saat duduk-duduk bersama teman malah masing-masing sibuk dengan gawainya. Mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Tak dapat dipungkiri bahwa gawai sangatlah mempermudah hidup kita, namun penggunaannya yang tidak bijak dapat merugikan diri kita.

Sadar akan hal itu, ada beberapa upaya agar kita makin bijak menggunakan gawai. Saya mendapat banyak pelajaran dari asisten asistensi agama Islam (AAI) pertama saya Mas Faris, salah satunya adalah saat melingkar di AAI, semua gawai kita dikumpulkan di tengah dan yang ingin menggunakan gawainya izin harus izin terlebih dahulu. Hal ini membuat forum menjadi efektif dan tidak ada yang sibuk sendiri dengan gawainya. Saat belajarpun juga ada baik kita menjauh dari distraktor konsentrasi terbesar, yaitu gawai kita sendiri. Karena kadang saya sendiri merasa sudah belajar sampai larut malam namun hanya sedikit yang saya pelajari akibat terlena dengan gawai.

Yuk, kita lebih bijak menggunakan gawai kita untuk hidup yang lebih muntijah (produktif) 😊

Summarecon Mal Bekasi, 18 Januari 2018
Bukhori Ahmad Muslim

*Terasa asing ya penggunaan kata gawai untuk menggantikan kata gadget 😁


Rabu, 17 Januari 2018

"Atur shalatmu maka Allah akan mengatur urusanmu."

Sebuah kalimat sederhana yang awalnya tidak mau kupercaya begitu saja. Namun hal itu tanpa kuniatkan untuk dibuktikan, terjadi begitu saja. Izinkan aku bercerita hal-hal yang kadang terjadi dalam hidupku.

Di suatu malam yang berisi penyesalan dan kekesalan terhadap hari itu juga. Mengapa rasanya hari itu berantakan tak teratur. Menunggu lama seseorang namun yang ditunggu tak datang. Ada beberapa agenda yang bertabrakan. Datang kuliah ternyata setelah menunggu beberapa lama dosennya tak hadir. Merasa banyak waktu yang kurang produktif di hari itu. Akhirnya aku renungi apa yang kulakukan dari awal hari hingga hari itu berakhir. Ternyata kusadari shubuhku tidak di awal waktu dan tidak jamaah. Dhuhaku pun luput. Aku memilih menunda shalat asharku untuk kegiatan yang sebenarnya juga bisa dilaksanakan setelah menunaikan shalat ashar terlebih dahulu. "Hmm, mungkin karena ini."

Lalu pada suatu hari kucoba untuk bangun lebih awal. Tahajjud, shubuh berjamaah, dan dhuha. Kemudahan demi kemudahan yang kurasakan pada hari itu. Aku ingin bertemu seseorang yang biasanya untuk menemuinya harus janjian dan menunggu, orang itu lewat di hadapanku dan bisa ketemui langsung. Agenda-agenda yang ada tersusun teratur begitu saja. Di akhir hari terasa kepuasan tersendiri karena hari itu terasa begitu produktif dan teratur. Semua tergantung bagaimana kuawali hari itu.

Memang ini hanyalah sebuah testimoni yang tidak memiliki kekuatan bukti ilmiah seperti testimoni orang sembuh setelah menggunakan herbal tertentu. Mungkin harus dilakukan meta-analisis untuk membuktikan secara saintifik bahwa kedua hal ini berhubungan. Namun, tidak ada salahnya kita shalat tepat waktu.


QG-127 SOC-HLP, 17 Januari 2018
Bukhori Ahmad Muslim

Foto inspiratif yang kutemukan di udara

Selasa, 16 Januari 2018

Apakah kamu pernah menemukan temanmu yang sibuk mengurusi urusan orang lain dalam konteks positif? Maksudnya adalah dia sibuk sekali mengurus kemaslahatan orang banyak. Padahal jika kamu pikir-pikir kembali keadaan dirimu, mengurusi diri sendiri saja sering tidak selesai-selesai. Namun, mengapa ia sempat-sempatnya merelakan dirinya untuk membantu orang lain?

"Allah dalam pertolongan seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya." Barangkali ini adalah motivasinya untuk menolong orang lain. Dia percaya akan sabda ini. Baginya, membantu orang lain dapat mempermudah urusan pribadinya. Masih dapatkah kamu menemukan orang seperti ini? Apabila tidak, setidaknya jadilah salah satu orang seperti itu.

KUA, 16 Januari 2018
Bukhori Ahmad Muslim

Senin, 15 Januari 2018

Kadang kita harus menghadapi hal-hal yang tidak kita sukai agar kita tidak mati rasa akan hal-hal yang kita sukai. Agar kita sadar akan mahalnya pertemuan, kita harus ditempa dengan jarak dan rasa rindu. Agar kita sadar akan nikmatnya istirahat, kita harus berlelah-lelah terlebih dahulu. Nikmat sehat baru terasa berharga bagi orang yang sakit.

Jika hidup terasa datar, barangkali hanya kenikmatan-kenikmatan yang menghampiri kita tanpa diselingi rasa tak mengenakkan sehingga tak terasa berharganya kenikmatan itu. Tidak perlu berharap agar datang rasa tak mengenakkan itu. Cukup syukuri hidup yang ada ini. Bisa jadi hidup yang kamu keluhkan sekarang adalah hidup yang diidam-idamkan orang lain.

Burjo Depan UNS, 15 Januari 2018
Bukhori Ahmad Muslim

Minggu, 14 Januari 2018

Lingkungan

Saat berenang, saya mencoba menggendong teman saya di dalam air dan rasanya sangatlah ringan. Pasti beda rasanya jika saya menggendongnya di atas darat tanpa air. Namun, saat saya mencoba berlari di dalam air, rasanya kaki dan badan terhambat oleh air. Sangat berbeda saat saya mencoba berlari di atas darat tanpa air. Tentunya gerakan berpindah yang cocok di dalam air adalah berenang bukan berlari.

Seperti itulah lingkungan mempengaruhi kita. Saat kita menghadapi sebuah beban berat di lingkungan kita sekarang, mungkin saat kita berpindah lingkungan maka beban yang kita anggap berat tadi terasa tak ada apa-apanya. Lingkungan pun juga bisa menghambat gerak kita. Di lingkungan yang terasa tak ada beban atau maksimal beban menjadi terasa jauh lebih ringan ternyata juga dapat menghambat gerak biasa kita. Kita perlu melakukan gerak yang lebih luwes agar gerak kita malah terfasilitasi oleh lingkungan ini. Oleh karena itu, renungi kembali apakah kita sedang di 'darat' atau di 'air'?

Tulisan abstrak sebelum berhadapan dengan neuro
KUA, 14 Januari 2018
Bukhori Ahmad Muslim

Sabtu, 13 Januari 2018

Merencanakan Kematian

Di suatu grup LINE pada sesi tanya-jawab anggota grup tersebut, muncul sebuah pertanyaan menarik.



"Pengen merencanakan wafat dlm keadaan sprti apa?" (Kartikawati, 2018)

Saya kutip pertanyaan itu tanpa disunting sama sekali.

Seringkali kita memikirkan perencanaan hidup. Bahkan anak kecil pun pada masa kecilnya sering ditanya cita-citanya, "Mau jadi apa kalau besar nanti?" Banyak motivator memotivasi apabila ingin hidup sukses maka rencanakanlah. Setiap organisasi dalam keberjalanannya diawali dengan perencanaan.  Banyak yang memikirkan perencanaan hidup. Namun, kita sering lupa bahwa kita pasti juga akan mati. Memang tidak ada yang tahu kapan mati tapi kita mati bagaimana itu bisa direncanakan.

Sebagai orang yang yakin masih ada kehidupan abadi setelah kematian, hal ini jangan sampai luput. Dunia yang hanya beberapa tahun tak ada apa-apanya dengan akhirat yang kekal. Hal yang paling menentukan akhirat kita adalah episode akhir-akhir dalam hidup kita. Sebuah episode yang kita tak tahu kapan tapi bisa diantisipasi.

"Orang akan mati atas kebiasaan hidupnya." Hal ini yang paling utama dalam perencanaan kematian. Mari biasakan kebaikan apabila mati dalam kebaikan. Sebaliknya, setiap melakukan keburukan yang membuat hati was-was, camkan dalam hati pikiran bagaimana jika aku mati saat melakukan hal ini? Semoga hal ini dapat membantu berhenti melakukan keburukan.

Selanjutnya, rencanakan bagaimana keadaan mati kita yang kita masing-masing idamkan lalu kita usahakan dan doakan agar hal itu tercapai. Tanyakan pada diri, masihkah mati syahid, mati yang paling mulia di sisi Allah, menjadi cita-cita tertinggi kita? "Barangsiapa yang meminta Allah kesyahidan dengan benar maka Allah akan sampaikan dia pada derajat syuhada' walaupun dia mati di atas kasurnya." (HR Muslim no 1909)

Karena sering sekali kita memikirkan bagaimana cara hidup enak namun sering kita lupakan bagaimana cara mati enak.

KA Argo Lawu, 13 Januari 2018
Orang yang belum merasakan kematian namun pasti akan merasakannya,
Bukhori Ahmad Muslim

Jumat, 12 Januari 2018

Ada percakapan menarik antara seorang hamba dengan Allah di hari kiamat. Maknanya sangat dalam. Mari kita simak.

Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih Muslim nomor 2569 bahwa Abu Hurairah menceritakan Rasulullah bersabda seperti ini. (Hadis Qudsi)

Allah berfirman di hari kiamat, "Wahai anak, Aku sakit tapi kamu tidak menjenguk-Ku."

Maka hamba itu menjawab, "Ya Rabbku, bagaimana aku menjengukmu sakit padahal Engkau adalah Rabb Semesta Alam?"

Allah berfirman, "Apakah kamu tidak tahu bahwa ada hamba-Ku sakit bernama Fulan* lalu kamu tidak menjenguknya. Apakah kamu tidak tahu apabila kamu menjenguknya maka kamu akan temukan Aku di sisinya."

"Wahai anak Adam, Aku meminta makanan padamu lalu kamu tak memberi-Ku makan."

Maka hamba itu menjawab, "Ya Rabbku, bagaimana aku memberi-Mu makan padahal Engkau adalah Rabb Semesta Alam?"

Allah berfirman, "Apakah kamu tidak tahu ada hamba-Ku bernama Fulan meminta makan kepadamu lalu kamu tidak memberinya makan. Apakah kamu tidak tahu apabila kamu memberinya makan maka kamu akan temukan pahala dari sisi-Ku."

"Wahai anak Adam, Aku meminta minum padamu tapi kamu tidak memberi-Ku minum."

Maka hamba itu menjawab, "Ya Rabbku, bagaimana aku memberi-Mu minum padahal Engkau Rabb Semesta Alam?"

Allah berfirman, "Apakah kamu tidak tahun ada hamba-Ku bernama Fulan meminta minum kepadamu lalu tidak kamu beri minum. Apakah kamu tidak tahu apabila kamu beri dia minum maka kamu akan temukan pahala dari sisi-Ku."

*Dalam bahasa Arab jika tidak ingin menyebut nama orang cukup gunakan kata Fulan. Kalau di bahasa matematika mungkin adalah X.

Yuk kita bantu ibu ini, barangkali kita dapat temukan Allah di sisi ibu ini 😊 

Tentu bukan makna hakiki yang dimaksud. Ulama menjelaskan yang dimaksud dengan "kamu temukan Aku di sisinya" adalah kamu akan temukan pahala dan kemuliaan Allah dengan melakukan amalan-amalan tersebut. Subhanallah. Mahasuci Allah dari sifat sakit, meminta makan dan minum.

Jatiasih, 12 Januari 2018
Bukhori Ahmad Muslim

Kamis, 11 Januari 2018

Inspirasi dari Surat Yusuf



Sebelum membaca tulisan ini lebih lanjut, ada baiknya membaca makna surat Yusuf (minimal terjemahan) terlebih dahulu, sebuah surat yang dari awal hingga akhir berisi kisah nyata inspiratif.

Ada seorang ibu hamil yang membacakan surat Yusuf pada janinnya. Saat ditanya untuk apa membaca surat Yusuf bukan surat yang lain? Sang Ibu menjawab, "Dokter kandungan menyatakan bahwa anak yang ada di rahimku ini berjenis kelamin laki-laki. Aku ingin anakku kelak seperti Nabi Yusuf, ganteng, shalih, dan menjadi pemimpin."

Kali ini aku tidak ingin membicarakan amalan yang dilakukan ibu itu apakah sesuai sunnah atau tidak. Namun, jika benar ibu itu ingin anaknya seperti Nabi Yusuf. Apakah ibu itu ingin anaknya didengki oleh saudara-saudaranya sendiri sampai dibuang ke sumur melalui sebuah skenario yang rapi,

"Ketika mereka berkata, “Sesungguhnya Yusuf dan saudaranya (Bunyamin) lebih dicintai ayah daripada kita, padahal kita adalah satu golongan (yang kuat). Sungguh, ayah kita dalam kekeliruan yang nyata. Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu tempat agar perhatian ayah tertumpah kepadamu, dan setelah itu kamu menjadi orang yang baik." Seorang di antara mereka berkata, “Janganlah kamu membunuh Yusuf, tetapi masukan saja dia ke dasar sumur agar dia dipungut oleh sebagian musafir, jika kamu hendak berbuat.”" ayat 8 - 10 (skenario dan pelaksanaan lengkapnya ada di ayat-ayat selanjutnya)

dijual murah sebagai budak berlian di negara lain,

"Dan mereka menjualnya (Yusuf) dengan harga rendah, yaitu beberapa dirham saja, sebab mereka tidak tertarik kepadanya." ayat 29

digoda oleh istri pejabat,

"Dan perempuan yang dia (Yusuf) tinggal di rumahnya menggoda dirinya. Dan dia menutup pintu-pintu, lalu berkata, “Marilah mendekat kepadaku.” Yusuf berkata, “Aku berlindung kepada Allah, sungguh, tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.” Sesungguhnya orang yang zhalim itu tidak akan beruntung." ayat 23

tapi malah difitnah menggoda,

"Dan keduanya berlomba menuju pintu dan perempuan itu menarik baju gamisnya (Yusuf) dari belakang hingga koyak dan keduanya mendapati suami perempuan itu di depan pintu. Dia (perempuan itu) berkata, “Apakah balasan terhadap orang yang bermaksud buruk terhadap istrimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan siksa yang pedih?”" ayat 25

memilih dipenjara daripada berbuat yang tidak-tidak,

"Yusuf berkata, “Wahai Tuhanku! Penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka. Jika aku tidak Engkau hindarkan dari tipu daya mereka, niscaya aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentu aku termasuk orang yang bodoh.”" ayat 33

sudah meminta temannya yang bebas dari penjara agar menjelaskan ke pihak berwenang tentang dia tak bersalah tapi dipenjara harapannya dia bisa bebas malah temannya lupa akhirnya bertahun-tahun lagi di penjara.

"Dan dia (Yusuf) berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat di antara mereka berdua, “Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu.” Maka setan menjadikan dia lupa untuk menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya. Karena itu dia (Yusuf) tetap dalam penjara beberapa tahun lamanya." ayat 42

Apakah ibu itu ingin anaknya mengalami episode yang sangat berat dalam hidup seperti yang dialami Nabi Yusuf? Belum tentu jawabannya iya.

Baru setelah Raja Mesir mencari orang yang bisa men-ta'bir (takwil) dan tidak ada yang bisa, teman Nabi Yusuf ingat bahwa Nabi Yusuf yang masih di penjara itu bisa men-takwil mimpi, akhirnya Nabi Yusuf keluar dari penjara dan men-takwil mimpi Raja. Tak hanya men-takwil mimpi itu (yang artinya akan ada kekeringan panjang), Nabi Yusuf juga menawarkan solusi. Setelah itu berangsur-angsur nasib Nabi Yusuf membaik, menjadi menteri dari raja Mesir tersebut.

Seringkali kita terinspirasi dari orang sukses dan ingin menjadi orang sukses. Namun, kadang kita lupa cerita sebelum orang itu meraih kesuksesannya. Kita hanya ingat bagian enak di akhir melupakan kepahitan di awal. Oleh karena itu, untuk kamu yang merasa hidupnya sekarang rumit, barangkali kamu sedang di seperti episode sulit Nabi Yusuf. Yakinlah ada episode indah yang menantimu setelah ini.

Karena ada baiknya, semakin gelap malam, semakin larut malam, kita semakin sadar bahwa fajar semakin dekat.

Jatiasih, 11 Januari 2018
Bukhori Ahmad Muslim

Rabu, 10 Januari 2018

Liburan ini adalah kesempatan untuk bertemu dengan teman yang lama tak berjumpa. Kadangkali bertemu orang baru membuat kita lupa kepada orang yang sudah membentuk kita sampai sejauh ini, tidak lain dan tidak bukan adalah teman lama kita. Bertemu dengan teman lama akan menyadarkan kembali siapa kita dan dari mana kita berasal. Temuilah ia agar tak lupa daratan. Temuilah ia untuk mencharge iman.

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah bercerita ada seseorang laki-laki keluar untuk mengunjungi saudaranya karena Allah di desa lain. Maka Allah mengutus malaikat (berbentuk manusia) untuk menyusulnya. Setelah menyusulnya malaikat itu bertanya, "Mau ke mana?" Lalu lelaki itu menjawab, "Aku ingin mengunjungi seseorang." "Apakah karena hubungan kekerabatan?", lanjut tanya malaikat itu.
"Tidak", jawabnya. 
Apakah karena suatu manfaat darinya yang ingin kau jaga?"
"Tidak"
"Lalu mengapa?"
"Aku mencintainya karena Allah.", jawabnya.
Maka malaikat itu berkata, "Sebenarnya aku adalah utusan Allah kepadamu untuk mengabarkanmu bahwa Allah mencintaimu sebab rasa cintamu pada saudaramu karena-Nya." (HR Ahmad)

Temuilah kembali temanmu yang dapat membuatmu kembali dekat kepada Allah. Gunakan kesempatan yang ada untuk menemuinya. Barangkali dengan usaha ini menjadi sebab Allah mencintai kita. Karena jika ditanya apakah kamu mencintai Allah sudah pasti jawaban adalah iya. Namun apabila pertanyaannya dibalik, apakah kamu yakin bahwa Allah mencintaimu? ....

Cibubur Residence, 10 Januari 2018

Selasa, 09 Januari 2018

Longlife Learning

اطلب العلم من المهد إلى اللحد

Ini adalah sebuah kalimat yang diajarkan dalam pelajaran mahfuzhat (kata-kata mutiara bahasa Arab) kepada santri pada tahun pertamaku di pesantren. Artinya harfiyahnya kira-kira seperti ini: tuntutlah ilmu sejak buaian hingga liang lahat. Pada aslinya di bahasa Arab adalah lahad menggunakan huruf d, entah mengapa saat diserap di bahasa Indonesia menjadi lahat menggunakan huruf t. Kembali ke ke kalimat itu, tentu kita paham makna aslinya adalah tuntutlah ilmu sepanjang hayat. Bahasa kerennya longlife learning.

Dalam menghafal Alquran pun dikenal istilah mengulang hafalan alias murajaah sepanjang hidup. Tanpa murajaah, hafalan yang sudah ada akan tiada. Bahkan ditekankan bahwa kewajiban bukanlah menghafal seluruh isi Alquran melainkan menjaga apa yang sudah dihafal. Tentunya dengan murajaah seumur hidup.

Saat masuk kedokteran, diriku ini bertemu lagi dengan konsep longlife learning. Menjadi dokter artinya harus menjadi pembelajar seumur hidupnya. Tidak bisa dokter hanya mengandalkan ilmu yang didapatkan saat masih kuliah saja. Setiap tahun akan ada perkembangan dan perubahan dalam ilmu ini. Jadi teringat di sebuah kuliah saat masih di blok pertama, saat itu dosen mengutip perkataan Dekan FK Harvard yang kira-kira artinya, "Para mahasiswa saya kaget saat saya mengatakan hal ini kepada mereka: setengah yang kalian diajari di fakultas kedokteran akan terlihat salah dalam sepuluh tahun ke depan. Masalahnya adalah dosen kalian tidak ada yang tahu setengah mana yang akan salah."


Sebagai contoh nyata, pada guideline hipertensi (tekanan darah tinggi) JNC 7 tahun 2003 yang direvisi menjadi JNC 8 tahun 2014, hipertensi didefinisikan saat tekanan darah ≥ 140/90 mm Hg. Pada guideline hipertensi terbaru yaitu AHA 2017, hipertensi didefinisikan saat tekanan darah sistol ≥ 130 mm Hg ATAU tekanan darah diastol ≥ 80 mm Hg (penggunaan kata "atau" berarti jika salah satu sudah tercapai maka sudah dapat didefinisikan sebagai hipertensi). Tentu ini hanya secuil dari banyaknya contoh perubahan definisi dalam ilmu kedokteran. Dapat kita lihat dari sini dinamisnya ilmu kedokteran, apabila kita tidak memperbarui ilmu maka kita akan 'salah'.

Jangan pernah lelah untuk belajar. Pastikan di setiap hari selalu ada ilmu baru yang dipelajari baik itu ilmu dunia maupun akhirat. Ilmu sangatlah luas, dia tidak akan memberikanmu sebagiannya hingga kamu memberikannya seluruh dirimu. (العلم لن يعطيك بعضه حتّى تعطيه كلّك)

Intinya, untuk kamu yang sedang belajar walaupun sudah liburan untuk alasan apapun itu baik persiapan olimpiade ataupun remediasi, semangat ya! 😊 Ingat tujuan lebih panjangmu, untuk Allah kemudian untuk pasienmu di masa depan 😉

Jatiasih, 9 Januari 2018
طالب العلم مدى الحياة
(Longlife Learner)
بخاري أحمد مسلم
Bukhori Ahmad Muslim

Daftar Pustaka
Brown, M. (2003). The Seventh Report of the Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure. The JNC 7 Report. Evidence-Based Eye Care, 4(3), pp.179-181.
Michael R. Page, R. (2014). The JNC 8 Hypertension Guidelines: An In-Depth Guide. American Journal of Managed Care, [online] http://www.ajmc.com/publications/evidence-based-diabetes-management/2014/january-2014/the-jnc-8-hypertension-guidelines-an-in-depth-guide [diakses 9 Januari 2018].
Shen, WK, Sheldon, RS, Benditt, DG, Cohen, MI, Forman, DE, Goldberger, ZD, Grubb, BP, Hamdan, MH, Krahn, AD, Link, MS, Olshansky, B, Raj, SR, Sandhu, RK, Sorajja, D, Sun, BC & Yancy, CW 2017, '2017 ACC/AHA/HRS Guideline for the Evaluation and Management of Patients With Syncope: A Report of the American College of Cardiology/American Heart Association Task Force on Clinical Practice Guidelines, and the Heart Rhythm Society' Circulation. DOI: 10.1161/CIR.0000000000000499

Senin, 08 Januari 2018

TAWAKKAL

Tawakkal, sudahkah kita memahami kata ini dengan tepat? Acapkali saat kita menghadapi sesuatu yang membuat kita pasrah, kita dipesani oleh teman, "Udah, tawakal aja." Lalu seketika kita memasrahkan hasil kepada Allah.

Tawakkal, yang sebenarnya dalam bahasa Arab artinya kata kerja perintah (fi'lul amri) dari kata tawakal yang yang kita kenal di bahasa Indonesia. Tawakkal sendiri jika maksudnya kata benda (mashdar atau kalau dalam bahasa Inggris disebut gerund) lebih tepatnya adalah tawakkul seperti halnya bentuk tadabbur, ta'arruf, takabbur.

Lalu, apa sih arti tawakkul sendiri dalam bahasa Arab? Tawakkul sendiri artinya memasrahkan hasilnya kepada Allah setelah melakukan usaha. Nah, penting kita mematri dalam hati bahwa tawakkal itu setelah kita melakukan usaha yang pantas. Apabila kita tidak berusaha lalu hanya pasrah maka bukan termasuk tawakkal. Itu namanya tawaakal (تواكل).

Anas bin Malik menceritakan bahwa ada orang yang bertanya kepada Nabi, "Wahai Rasulallah, apakah aku ikat dulu untaku dulu baru aku bertawakkal atau aku lepas saja baru aku bertawakkal?" Nabi menjawab, "Ikatlah barulah tawakkal." (HR At-Tirmidzi)

Usaha, proses, upaya, atau apapun itu namanya tidak menafikan tawakkal. Justru Allah memerintahkan kita untuk berusaha. Allah tidak ingin kita hanya memasrahkan semuanya kepada Allah tanpa kita berusaha terlebih dahulu. Ingatlah kisah Bunda Maryam sesaat melahirkan Nabi Isa. Bayangkan bagaimana lemahnya seorang ibu yang baru saja melahirkan di bawah pohon kurma seorang diri tanpa ditemani siapapun lalu Allah memerintahkannya untuk menggoyang-goyangkan pangkal pohon kurma agar buah kurma gugur dan dapat menjadi makanannya. Allah sangat berkuasa untuk membuat buah kurma berjatuhan ke arah Bunda Maryam tanpa harus Bunda Maryam berusaha namun tetap Allah memerintahkan untuk berusaha.

Sudah maksimalkah usaha kita? Atau kita menggunakan tawakkal untuk mencari-cari alasan kebelumberhasilan kita? "Ah, memang Allah belum mengizinkanku untuk meraih hal ini." Padahal usaha maksimal belum ditempuh. Allah tidak menanyakan mengapa kita tidak menang tetapi menanyakan mengapa kita tidak berusaha?

Jatiasih, 8 Januari 2018
Bukhori Ahmad Muslim
Sumber

Minggu, 07 Januari 2018

Libur Kuliah

Liburan, tanpa ditunggupun akan tiba. Setelah sekitar 4 bulan 'babak belur' dengan dinamika perkuliahan akhirnya tiba juga masa rehat hampir 2 bulan. Bersyukurlah bagi yang mendapat liburan panjang ini karena belum tentu orang lain merasakan ini.

Bagaimana wujud syukur kita atas nikmat liburan ini? Syukur sendiri dapat melalui beberapa bentuk seperti dalam hati, ucapan, maupun perbuatan. Adapun syukur dalam bentuk perbuatan atas nikmat ini dapat berupa mengisinya dengan perbuatan yang bermanfaat. Seperti yang sudah kita ketahui, liburan pada dasarnya adalah waktu luang sehingga jika tidak kita dengan perbuatan bermanfaat maka akan rawan diisi dengan perbuatan sia-sia.

"Dua nikmat yang banyak manusia menyia-nyiakannya: kesehatan dan waktu luang." (HR Bukhori, Ahmad, Ibnu Majah, dan Ad-Darimi)

Hakikatnya, liburan bukanlah berhenti dari segala aktivitas melainkan hanya perubahan bentuk aktivitas. Jiwa ini akan jenuh jika terus menerus melakukan hal yang sama berulang-ulang; jiwa perlu variasi agar tidak jenuh.

“Maka apabila kamu telah selesai dari satu urusan maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain.” (94 : 7)

Lalu, bagaimana cara agar liburan kita berfaedah? Hal yang pertama paling utama adalah perencanaan. Orang yang tidak merencanakan masa depan sama saja merencanakan kegagalan. Memang tidak bisa kita generalisir, namun ada baiknya kita merencanakan di awal daripada menyesal di akhir karena merasa liburannya nirfaedah.

Dalam perencanaan, sesuaikan dengan minat bakat kita. Ingat-ingat kembali hal-hal yang ingin kita lakukan namun belum sempat karena kesibukan kuliah. Bagi yang ingin menghafal Alquran dapat mencari lingkungan yang pas dengan mengikuti program-program menghafal Alquran yang diadakan di bulan-bulan ini. Bagi yang bosan selama bulan kuliah hanya membaca PPT dosen, textbook, atau materi-materi kuliah dapat merencanakan buku apa saja yang ingin dikhatamkan selama liburan ini. Bagi yang ingin menulis bebas namun tidak sempat karena harus menulis buku rencana kerja atau laporan dapat menargetkan tiap hari harus menulis sebanyak sekian atau dapat menargetkan menghasilkan tulisan tiap harinya (seperti yang saya targetkan, doakan agar istiqamah).

Sekadar tips, tuliskan target jangan hanya dalam pikiran. Tuliskan target di tempat sering kita membacanya. Bisa di gadget yang sering kita gunakan atau sticky note di tempat sering kita baca. Hal ini agar target yang kita rencanakan dapat sering kita baca harapannya bisa masuk hingga ke dalam alam bawah sadar.

Selain tentukan apa yang ingin dilakukan, susun juga indikator baik kuantitatif maupun kualitatif dalam jangka waktu tertentu agar dalam jangka waktu ini kita dapat mengetahui apakah target kita tercapai atau tidak. Sebaiknya jangan membuat jangka waktu ini adalah dari awal liburan hingga akhir liburan. Ada baiknya jangka waktu ini dibagi 2 atau lebih. Misalnya setengah liburan pertama dan setengah liburan kedua atau dibagi 3 sehingga sepertiga liburan pertama, kedua, dan ketiga. Hal ini agar tidak terjadi baru sadar liburannya nirfaedah di akhir liburan.

Terakhir yang paling penting adalah eksekusi. Jangan sampai rencana yang sudah disusun hanya berujung wacana. Hal ini dapat dibantu dengan mencari lingkungan yang pas dengan rencana kita agar mudah teraihnya tujuan kita. Seperti mencari lingkungan qurani agar dapat lebih mudah menghafal beberapa juz.

Semoga yang sedang berlibur, liburannya berfaedah. Bagi yang belum berkesempatan liburan, yakinlah kesempatan kebermanfaatanmu lebih besar.

Menuju liburan yang berfaedah
KMP Mufidah Bakauheni - Merak, 7 Januari 2018
Bukhori Ahmad Muslim

Sabtu, 06 Januari 2018

20 Years Anniversary

"Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari kelahiranku, pada hari wafatku, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.” (Perkataan Nabi Isa yang diabadikan di surat Maryam ayat 33)

Hari ini, genap diriku berkepala dua, 20 tahun masehi, bersama Tinet dan Tasya wkwk. Aku bukan tipe orang yang suka merayakan ulang tahun. Ada yang bilang itu tasyabbuh bil kuffar ada juga yang bilang ini muamalah yang hukum asalnya adalah boleh sampai ada dalil yang melarangnya. Bukan itu bahasanku sekarang. Aku adalah tipe orang yang suka mengingat momen, bukan momentum yang sama dengan massa dikali kecepatan. Izinkan aku flashback 20 tahun yang lalu tepatnya 6 Januari 1998 M alias 7 Ramadan 1418 Hijriyah.

Bulan Ramadan yang dimulai pada akhir tahun 1997. Aku tidak tahu bagaimana perayaan tahun baru 1998 saat itu. Apakah lebih ramai jamaah shalat tarawih kedua (yang biasanya masih ramai namun berkurang seiring bertambahnya tanggal Ramadan) atau jamaah bergadang hingga dini hari menghitung mundur detik pergantian tahun. Aku tidak tahu, aku belum lahir dan belum juga kutanyakan orangtuaku; belum tentu beliau berdua ingat.

Mari lanjut kita maju 17 tahun kemudian, 17 tahun hijrah diriku, hijriyah maksudku bukan masehi. 7 Ramadan 1435 H. Aku tak ingat persis apa yang terjadi pada tanggal itu selain posisi diriku saat itu sedang tidak di tanah air. Namun, yang kujelas ingat adalah di awal Ramadan tahun itu Allah pertemukanku dengan sosok yang luar biasa. Anggaplah sebagai hadiah sweet seventeen untuk diriku. Perkenalkan nama beliau adalah Musa.

Musa, barangkali kalian masih ingat. Beliau pernah menghiasi layar TV Indonesia di acara Hafiz Indonesia RCTI pada pertengahan tahun 2014 (Ramadan 1435 H). Saat itu beliau viral dengan judul "Bocah 5,5 tahun hafal 29 juz". Nah saat kami bertemu di Jeddah, hafalan beliau sudah genap 30 juz.

Sungguh sebuah keajaiban di zaman ini. Aku bergetar melihat karunia Allah di depan mata kepalaku sendiri. Iya benar aku tak salah, anak yang umurnya belum genap 6 tahun ini hafal Alquran 30 juz (beliau kelahiran Juli 2008). Aku ajukan beberapa ayat agar beliau lanjutkan lalu aku tanya surat apa itu dan beliau mampu menjawabnya dengan 'logat' khas anak kecil Indonesia yang agak cadel. Hal pertama yang terpikir di benakku adalah bagaimana hal ini bisa terjadi. Bagaimana caranya seorang anak yang bahasa ibunya bukan bahasa Arab dapat selesai menghafal Alquran 30 juz yang tentunya berbahasa Arab dan tebalnya 604 halaman sebelum umurnya mencapai 6 tahun. Aku tak mungkin menganamnesis beliau langsung, akhirnya kuputuskan untuk melakukan alloanamnesis. Aku tanyakan Abinya Musa yang saat itu menemani Musa di perjalanan internasional perdana beliau.

Ternyata dari hasil 'alloanamnesis', Musa bisa hafal Alquran bukan tiba-tiba hafal sendiri atau ada yang merasukinya sehingga hafal. Namun, ternyata memang Musa telah menempuh sebuah usaha yang memang wajar dengan izin Allah beliau dapat meraih kemuliaan itu. Maafkan diriku yang tak mengingat setiap detail yang diceritakan Abi Musa bagaimana Abi Musa mendidik Musa hingga dapat menghafal keseluruhan isi Alquran sebelum genap berumur enam tahun.

Namun dari remah-remah ingatanku ini, orang tua Musa sendirilah yang mendidik dan mengajarkan anak-anaknya Alquran. Sejak awal pernikahan mereka berdua sudah berkomitmen untuk mewujudkan hal ini. Sudah sejak dini Musa mulai untuk belajar Alquran. Abi Musa yang bernama asli Laode Abu Hanafi menyengajakan diri bekerja mencari nafkah di rumah agar dapat mendidik dan mengajarkan Alquran kepada anak-anaknya lebih intens. Proses Musa menghafal Alquran dimulai dengan belajar membaca Alquran dibarengi dengan menghafal dengan metode talqin (dibacakan lalu diminta untuk meniru yang sudah dibacakan hingga hafal). Setelah Musa sudah mampu membaca Alquran, maka proses menghafal Musa semakin cepat hingga sebelum genap 6 tahun beliau berhasil menyelesaikan 30 juz.

Semoga kita dapat melahirkan dan mencetak Musa-Musa selanjutnya di generasi selanjutnya, aamiin.


'Terombang-ambing' di laut seberang pulau Pahawang, 6 Januari 2018
Bukhori Ahmad Muslim
Foto bersama Syaikh Ali Jabir, Musa, dan Ust. Effendi usai Malam Apresiasi Internasional untuk Pelayanan Alquran di Jeddah, Arab Saudi (Ramadan 1435 H)

Jumat, 05 Januari 2018

Barakah Ilmu

Pembeli adalah raja. Itu adalah slogan untuk konsumen barang maupun jasa. Namun, ternyata ada pengecualian, yaitu pada ilmu. Jika pada dasarnya konsumen barang dan jasa harus diperlakukan bak raja maka berbeda dengan ilmu, justru yang pemberi ilmu itulah yang seharusnya diperlakukan bak raja. Walau mungkin terjadi pergeseran nilai-nilai di beberapa tempat mengenai hal ini namun pada dasarnya orang yang memberi ilmu akan dihormati.

Pernahkah terpikir mengapa ini terjadi? Silakan dapat ditanggapi via komentar. Namun, izinkan saya bercerita tentang apa yang namanya 'barakah' ilmu. Mungkin bahasa umumnya adalah berkah.

Wejangan yang saya dapatkan dari asatidzah (jama' dari ustadz) saya adalah buatlah ridha orang yang mengajarkanmu ilmu agar ilmu yang kamu dapat itu barakah. Wejangan ini kuputuskan untuk tidak kukritisi dan kupercayai begitu saja.

Lalu apa untungnya ilmu yang barakah? Barakah sendiri dalam bahasa Arab adalah ziyadatul khair atau bertambahnya kebaikan. Ilmu yang mungkin hanya beberapa tapi barakah akan membawa banyak kebaikan bahkan dapat mengalahkan kebaikan ilmu yang lebih banyak namun barakahnya kurang. 

Sering diriku ini merasa sudah tahu keutamaan amalan ini, sudah paham tatacara pelaksanaan ibadah ini, tapi sering rasanya berat untuk melaksanakannya, tak berkesempatan untuk mengamalkannya. Bisa jadi ilmuku tidak barakah.

Dulu seorang ustadzku memberi contoh seperti ini. Ada alumni yang saat di pondok pintar tapi kurang ihtiram-nya (penghormatan) kepada asatidzah maupun yang lainnya sehingga barangkali ilmu yang didapat kurang barakah. Saat lulus dan di masyarakat, alumni tersebut kurang bermanfaat di lingkungannya. Mungkin bahasa untuk alumni kampus: tidak dapat kerja di mana-mana.

Adapun ilmu yang barakah, bisa jadi secara kuantitasnya sedikit namun secara kualitas dan manfaat akan besar. Bisa jadi salah contoh ilmu barakah adalah saat mepet mau ujian kita hanya sempat mempelajari beberapa materi namun saat ujian materi itu yang keluar. Bisa jadi ini adalah ilmu yang barakah dalam jangka pendek.

Ada sebuah contoh ilmu barakah yang dapat kita temui dengan mudah. Bagaimanakah dulu saat kita belajar membaca Alquran? Banyak metode yang ada di Indonesia namun paling banyak menggunakan metode IQRO' yang diciptakan oleh KH. As'ad Humam. Bayangkan berapa juta anak Indonesia yang terbebas dari buta huruf Alquran dengan metode ini? Setiap huruf Alquran yang dibaca akan mendapat 10 kebaikan kepada masing-masing pembacanya, pengajarnya, pengajarnya pengajar, dst. Setiap huruf yang dibaca oleh orang yang melek huruf Alquran karena beliau maka pahalanya akan sampai beliau. Sungguh sebuah kebermanfaatan dan pahala yang luar biasa.

Semoga Allah memberkahi seluruh ilmu kita, aamiin.


Ditulis di atas Gojek Jatiasih - Cawang dilanjutkan di taksi menuju Slipi.
5 Januari 2018
Bukhori Ahmad Muslim

Kamis, 04 Januari 2018

Pulang

Tak terasa sudah 7,5 tahun diriku merantau, tidak sekolah di dekat rumah sendiri. Memang tidak full selama bertahun-tahun ini aku tidak pernah pulang ke rumah sendiri. Setiap tahun pasti pernah pulang. Nah, di saat setiap pulang itulah pasti selalu ada hal yang berbeda.

Selalu ada hal baru yang kutemukan di daerah sekitarku setiap aku pulang. Rumahku memang secara administratif berada di kota namun letaknya sangat di pinggir. Sejak dibuka pintu tol di kecamatanku, maka hal-hal yang baru seiring muncul berjamuran. Dari Hoka-Hoka Bento, KFC, hingga Gold Standard dan masih banyak lagi yang membuatku bertanya, apakah rumahku pindah ke kota besar atau kota itu sendiri yang membesar?

Sebagai perantau dari rumah sendiri selama bertahun-tahun, hal yang mungkin terasa aneh adalah lebih hafal jalan dan daerah di perantauan dibanding jalan dan daerah di rumah sendiri. Saat berjalan-jalan bersama teman lama kadang baru paham, "Ternyata bisa lewat sini ya."

Namun, hal itu tak membuat diriku menyesal. Ada keindahan tersendiri dalam merantau, terutama saat pulangnya. Saat pangling melihat tetangga sekitar yang dahulu mereka masih kecil sekarang sudah remaja, pangling melihat lingkungan sekitar yang dahulu banyak lapangan bola dan kebun sekarang sudah menjadi perumahan, pangling melihat kucing yang dulu mungil sekarang sudah menjadi pejantan tangguh.

Semoga yang sedang pulang dapat pulang dengan menemukan keindahan pulang versinya sendiri.

Jatiasih, 4 Januari 2018
Bukhori Ahmad Muslim
/